Cerita Dewasa Kenikmatan Terakhir Dengan Arini

Cerita Dewasa Kenikmatan Terakhir Dengan Arini – Nyonya Arini melihat Nanang yang menangis akibat perbuatannya. Ia mulai merasa kasihan dengan keadaan Nanang yang tersiksa karenanya. Jika bukan karena kejantanan Nanang, semua ini tidak mungkin terjadi. Beberapa wanita berebut ingin mendapatkan kejantanan Nanang. Nyonya Arini memeluk Nanang dan mencium pipi Nanang yang ia tampar tadi.

“Maafkan aku. Ini semua adalah salahku” kata Nyonya Arini.

“Nyonya…..” panggil Nanang sambil menatap wajah Nyonya Arini yang sendu itu.

“Iya, Nang. Jangan menangis lagi. Ayo kita kembali ke balai desa” ajak Nyonya Arini sambil menarik tangan Nanang, tapi Nanang menolaknya.

“Aku ingin berhenti bekerja untuk Nyonya” kata Nanang dengan sangat berani dan membuat Nyonya Arini terkejut.

“Kenapa ??? Kamu tidak bisa melakukan itu. Kamu harus ingat dengan kesepakatan yang telah kita janjikan” kata Nyonya Arini yang kini ketakutan akan ditinggal oleh Nanang.

“Aku ingin kembali menjadi diriku yang dulu. Aku akan mengganti semua yang Nyonya berikan kepadaku sesuai dengan perjanjian itu” kata Nanang.

“Tidak, aku tidak mau. Kamu harus tetap berada di sisiku. Bahkan untuk selama – lamanya” kata Nyonya Arini yang berusaha untuk mencegah niat Nanang.

“Aku tidak mau. Terima kasih atas semua yang telah Nyonya berikan kepadaku” kata Nanang. Ia pun mengembalikan jam tangan dan kalung mahal yang diberikan Nyonya Arini. Tekad Nanang untuk berhenti sudah sangat bulat dan tidak bisa diganggu gugat.

“Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sayang kepadamu. Hanya kamu yang bisa membuatku merasa nyaman” kata Nyonya Arini yang jujur dari dalam hatinya. Ia pun berlutut di depan Nanang. Ia rela merusak harga dirinya sebagai wanita yang harusnya dihormati dan disegani. Ia memeluk kaki Nanang dan terus memohon untuk tidak ditinggal oleh Nanang.

“Aku hanya berhenti dari pekerjaanku. Aku tidak mengatakan akan meninggalkan Nyonya” kata Nanang dan ia pun menyuruh Nyonya Arini untuk berdiri. Nanang memeluk Nyonya Arini dengan mesra. Ia merasa berhutang banyak kepadanya karena bagaimanapun juga Nyonya Arini yang telah membuatnya menjadi pria tangguh.

Dan sebagai kado ulang tahun untuk Nyonya Arini, Nanang mengajak Nyonya Arini untuk bercinta. Nyonya Arini yang masih dirundung oleh kesedihan hanya mengikuti Nanang kemanapun ia membawanya. Nanang mengajak Nyonya Arini menuju ke sebuah sungai yang merupakan tempatnya bermain. Aliran sungai itu begitu tenang dan airnya sangat jernih. Keadaan di sekitar sungai juga sangat sepi karena kebanyakan warga sedang berpesta di balai desa. Nanang mengambil beberapa lembar daun pisang sebagai alas untuk berbaring.

Nanang membaringkan tubuh Nyonya Arini di atas lembaran daun pisang itu. Ia menyeka air mata Nyonya Arini yang terus mengalir. Nyonya Arini membenamkan wajahnya di dada Nanang. Nanang memeluknya dengan mesranya. Lalu tangan nakal Nanang membelai pantat Nyonya Arini yang membusung itu. Secara perlahan kesedihan Nyonya Arini mulai sirna dan ia mulai menikmati setiap belaian Nanang.

“Berikan aku kehangatan dengan pejuhmu itu” kata Nyonya Arini sambil tersenyum.

Nanang mencium bibir Nyonya Arini dengan mesra. Nanang yang mulai mahir dalam berciuman berinisiatif untuk memainkan lidahnya. Nyonya Arini tak mau kalah dan ia membalas permainan lidah Nanang. Lidah mereka saling membelit. Sesekali Nanang menghisap lidah Nyonya Arini yang membuat Nyonya Arini semakin bergairah. Tangan Nyonya Arini mulai turun ke selangkangan Nanang dan membelai kontol Nanang. Ia membuka resleting celana Nanang dan mengeluarkan kontol Nanang.

Ia menggenggam dengan lembut kontol Nanang yang gagah itu. Nanang juga tak mau tinggal diam dan menyusupkan tangannya ke dalam rok panjang yang dikenakan Nyonya Arini. Ia menyentuh memek Nyonya Arini yang ternyata tidak terbungkus oleh celana dalamnya. Dengan bebasnya Nanang membelai memek Nyonya Arini sambil sesekali memasukkan dua jarinya ke lubang memeknya. Nyonya Arini mengerang dan membuat kocokan di kontol Nanang semakin cepat. Lalu Nyonya Arini membuka kancing kemejanya satu per satu. Lalu ia mengeluarkan kedua toketnya yang besar itu dari dalam BH nya.

“Hisap tetek ku, Nang. Hisap yang kuat ya” pinta Nyonya Arini.

Nanang tersenyum mendengarnya dan segera melahap kedua gunung kembar milik Nyonya Arini. Ia menghisapnya dengan sangat kuat hingga tubuh Nyonya Arini ikut terangkat. Kedua putingnya silih berganti mendapat hisapan mulut Nanang. Kemudian Nanang ingin merasakan kontolnya dijepit diantara kedua gunung kembar itu. Nanang meletakkan kontolnya diantara belahan toket Nyonya Arini. Nyonya Arini pun segera menjepit kontol Nanang dengan toketnya itu. Lalu Nanang bergerak maju mundur dengan perlahan dan ia mulai merasakan sesuatu yang cukup nikmat.

“Lebih enak dijepit memek atau sama tetek ???” tanya Nyonya Arini dengan nakalnya.

“Sudah pasti dijepit sama memek. Apalagi kalau dijepit memek Nyonya” jawab Nanang dan membuat Nyonya Arini tertawa.

“Mulai sekarang kamu tidak usah memanggilku dengan sebutan Nyonya. Cukup panggil namaku saja” suruh Nyonya Arini.

“Benarkah ??? Baiklah kalau Nyonya…Eh maksudku Arini mau seperti itu” kata Nanang sambil mencium bibir Nyonya Arini.

“Jilatin memek ku dong. Udah gatel nih” pinta Nyonya Arini dengan manjanya.

Lalu Nanang meminta Nyonya Arini untuk melakukan posisi 69. Dengan lahapnya kedua manusia yang tengah dirasuki nafsu itu saling melahap kelamin satu sama lain. Nanang begitu bersemangat menjilati memek Nyonya Arini dan mencucukkan lidahnya ke dalam lubangnya. Anus Nyonya Arini juga tak luput dari jilatannya dan membuat anus Nyonya Arini berkedut kencang. Sementara Nyonya Arini tengah menikmati es krim lezat yang bentuknya panjang dan keras.

Ia menjilati batang kontol Nanang dengan lahapnya. Mereka saling memberikan rangsang dan juga kepuasan. Nanang ingin menikmati tubuh Nyonya Arini yang mungkin akan menjadi yang terakhir untuknya. Begitu juga dengan Nyonya Arini yang seakan tidak ingin melepaskan kontol Nanang dari genggamannya. Setelah puas melakukan foreplay barulah acara utama dimulai. Kali ini Nyonya Arini meminta Nanang untuk bercinta di pinggiran sungai. Keduanya saling menelanjangi diri sebelum menyeburkan tubuh mereka ke dalam sungai yang dangkal. Keduanya seperti anak kecil yang saling bermain air.

Mereka saling kejar – kejaran di dalam sungai sebelum Nanang berhasil memeluk tubuh Nyonya Arini. Ia mencium leher dan belakang telinga Nyonya Arini yang merupakan titik rangsang Nyonya Arini. Nyonya Arini merasa begitu bahagia dan ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Ia sangat senang bisa mengenal Nanang yang dulu sempat ia remehkan dan ia permainkan. Ia jadi menyesal karena tidak menolong Ayah Nanang kala itu. Karena terlalu gembira keduanya pun tidak sadar kalau sedang diawasi oleh seorang pria yaitu Pak Eman.

Saat itu Pak Eman sedang kebelet buang air kecil dan secara tidak sengaja melihat Nanang dan Nyonya Arini tengah bermadu kasih. Pak Eman menjadi iri kepada Nanang yang berhasil menyetubuhi Nyonya Arini karena ia dari dulu adalah penggemar berat Nyonya Arini.

Ia sering berangan – angan untuk bisa bercinta dengan Nyonya Arini. Pak Eman pun bersembunyi di balik semak – semak sambil melihat Nanang dan Nyonya Arini yang akan segera melakukan senggama. Nanang berbaring di atas sebuah batu besar dan Nyonya Arini menunggangi kontol Nanang dari atas. Pantat Nyonya Arini bergerak maju mundur dan juga memutar. Nanang sangat suka ketika Nyonya Arini melakukan hal itu.

“Kamu suka ngentot dengan ku kan….aaahhhh…Aahhhh” erang Nyonya Arini.

“Su…Suka banget. Aku tidak ingin kontolku keluar dari memek kamu….Aaahhhh…Aaaahhh” erang Nanang sambil mencoba mengimbangi gerakan Nyonya Arini.

Gerakan Nyonya Arini yang liar dan tidak teratur itu membuat Nanang tidak bisa mengimbanginya. Ia ingin ikut menggerakkan pinggulnya, tapi gerakan Nyonya Arini yang erotis itu membuatnya hanya bisa diam dan menikmatinya. Lalu keduanya merubah posisi dengan bercinta sambil berdiri. Keduanya saling berhadap – hadapan dan Nanang mengangkat kaki kiri Nyonya Arini untuk membuka belahan memeknya. Lalu Nanang memasukkannya dan langsung menggunakan tempo penuh untuk menggenjot memek Nyonya Arini.

Pak Eman sendiri ikut takjub dengan kejantanan Nanang. Ia mengira kalau satu – satunya pria jantan yang ada di desa ini hanyalah ia seorang. Pak Eman telah banyak bersetubuh dengan beberapa gadis dan wanita yang ada di desa.

Itulah kenapa Mbak Yuyun pernah mengatakan kalau kelakuan Pak Eman itu bukan menjadi rahasia lagi untuknya. Tubuh Nyonya Arini berguncang – guncang dan nafsunya semakin meningkat hingga ke ubun – ubun.

“Naaanngggg…Memekkuuuuuu muncraatttt…Aaaahhhhhh….Kontoooollllll…Aaahhhhh” jerit Nyonya Arini.

Nanang memeluk tubuh Nyonya Arini dengan kuat agar ia tidak jatuh. Nanang merasakan kontolnya semakin terjepit di dalam memek Nyonya Arini. Lalu Nanang mengeluarkan kontolnya dan terdapat cairan putih yang menempel di batang kontolnya. Nyonya Arini berjongkok dan menjilati kontol Nanang sampai bersih. Lalu Nyonya Arini menungging sambil bertopang di atas batu. Ia meminta Nanang untuk menggenjot anusnya yang terlihat sedikit terbuka karena Nyonya Arini yang suka meminta untuk bermain anal.

Nanang menjilati anus Nyonya Arini sampai basah. Lalu Nanang masukkan kontolnya secara perlahan. Nyonya Arini mengeluh pelan karena meski sering digenjot Nanang, anusnya masih terasa perih ketika kontol Nanang masuk ke dalamnya.

Pak Eman semakin iri dengan Nanang. Selama ini Pak Eman belum pernah merasakan yang namanya anal seks. Baginya lubang anus itu sangat jorok dan setelah melihat persetubuhan itu, pikiran Pak Eman berubah dan ia ingin sekali melakukan anal. Nanang menggenjot anus Nyonya Arini dengan penuh gairah, sementara tangan Nyonya Arini mengelus klitorisnya untuk menambah rasa nikmat.

“Nannngggg…Keluaariiinnn pejuuhmuuu di anuskuuu yaaahhh…Aaahhhhhh…Uuhhhhhhh” desah Nyonya Arini yang meminta Nanang memenuhi anusnya dengan spermanya.

Nanang mulai merasakan orgasmenya sudah hampir tiba. Ia percepat temponya sambil meremas toket Nyonya Arini yang menggantung dengan indahnya. Lalu dengan sekuat tenaga ia keluarkan spermanya di dalam anus Nyonya Arini. Belum lagi spermanya habis keluar, Nanang mencabut kontolnya dan menumpahkan sisa spermanya di wajah Nyonya Arini. Nyonya Arini terkulai lemas hingga ambruk di atas batu tersebut. Nanang yang masih merasa bergairah pun memasukkan kontolnya ke dalam memek Nyonya Arini hingga Nyonya Arini orgasme berkali – kali.

Persetubuhan itu pun ditutup dengan Nanang dan Nyonya Arini bersantai di pinggir sungai. Mereka melihat matahari senja yang sangat indah di langit. Nyonya Arini merangkul lengan Nanang dan menyenderkan kepalanya di pundak Nanang. Nyonya Arini sangat bahagia sekali dan ia tidak ingin hari yang bahagia ini segera berakhir.

“Apakah kamu benar – benar ingin berhenti ???” tanya Nyonya Arini lagi yang masih ingin membujuk Nanang untuk bertahan.

“Keputusanku sudah bulat, Arini. Aku ingin kembali seperti diriku yang dulu. Aku merasa diriku yang ini bukanlah diriku yang sebenarnya” jawab Nanang sambil merangkul tubuh Nyonya Arini untuk semakin dekat dengannya.

“Baiklah, aku hargai keputusanmu itu. Tapi berjanjilah kalau kamu akan selalu ada bila aku membutuhkanmu” pinta Nyonya Arini yang berharap agar Nanang mau memenuhi permintaanya yang satu ini.

“Aku janji. Kapanpun Arini membutuhkanku, aku pasti akan ada di sana” kata Nanang sambil tersenyum lebar dan kemudian mencium bibir Nyonya Arini sebelum mereka kembali
ke rumah.

Pada hari – hari berikutnya, Nanang memulai aktifitas hariannya seperti dulu lagi. Ia kembali tinggal di rumahnya dengan sedikit melakukan renovasi agar rumahnya tampak cantik. Ia kini tinggal sendirian karena sang Ibu yang memilih untuk tinggal bersama Pak Eman. Berita tentang mundurnya Nanang dari pekerjaannya sudah diketahui oleh semua warga desa. Mereka mengapresiasi langkah Nanang yang dinilai tepat dan sangat berani. Warga mengembalikan image baik kepada diri Nanang yang sempat tercoreng. Nanang senang sekali bisa kembali ke kehidupan normalnya. Ia bisa bekerja di sawah dan berkumpul bersama teman – temannya lagi termasuk dengan Trisno.

Bagi Trisno, kembalinya Nanang ke rumah itu membuatnya tidak bisa lagi menggunakan Ibu Nanang sebagai alat untuk mencari duit. Nanang sendiri masih berusaha mencari tahu ada kesepakatan apa antara Ibunya dan juga Trisno hingga ia dengan tega memperalat Ibunya. Trisno juga tidak tahu kalau Ibunya dan juga Nanang sering bersetubuh ketika ia sedang tidak ada di rumah. Ibu Trisno yang selalu meminta Nanang untuk menyetubuhinya karena sudah ketagihan. Sementara Kakak Trisno hanya bisa menjadi penonton karena ia dilarang oleh Ibunya untuk bercinta.

Setidaknya Kakak Trisno bisa sedikit puas karena foreplay yang dilakukan oleh Nanang. Hubungan Nanang dan Mbak Yuyun mulai merenggang meski Mbak Yuyun telah mendengar berita tentang pengunduran diri Nanang. Bagi Mbak Yuyun, Nanang telah menyakiti hatinya dengan membagi kejantanannya dengan banyak wanita. Ia pikir hanya dirinya yang berhak merasakan kejantanan Nanang.

Sementara itu Pak Eman semakin hari semakin gelisah karena ia ingin sekali untuk bisa mencicipi tubuh Nyonya Arini. Rasa irinya terhadap Nanang membuatnya terus memikirkan cara untuk bisa melakukan niat bejatnya itu. Ia ingin mengancam Nyonya Arini karena ia adalah saksi persetubuhan antara Nyonya Arini dan juga Nanang.

Hingga pada suatu malam niat bejatnya itu pun berhasil dilakukannya dan bahkan ia melakukannya lebih dari yang ia duga. Saat itu hujan deras dan angin kencang sedang melanda desa Nanang. Malam – malam sekali Pak Eman keluar dari rumahnya sambil melawan cuaca ekstrem demi bisa merasakan tubuh Nyonya Arini.

Ia menunggu waktu hingga pukul satu pagi di dalam hutan yang ada di depan rumah Nyonya Arini. Setiap pukul satu pagi selalu terjadi pergantian penjaga dan ia bisa memanfaatkan kelengahan itu untuk menyusup masuk ke dalam rumah Nyonya Arini. Sebagai mantan tangan kanan Nyonya Arini, ia tentu tahu seluk – beluk tentang rumah Nyonya Arini termasuk keamanannya.

Saat pukul satu pagi tiba, Pak Eman langsung bergerak menuju pintu gerbang rumah Nyonya Arini. Ia melihat pos penjagaan tengah kosong melompong. Ia pun bergerak ke halaman belakang rumah Nyonya Arini dengan sangat hati – hati. Lalu ia memanjat ke atas balkon yang langsung terhubung dengan kamar Nyonya Arini.

Ia beruntung karena pintu balkon tidak dalam keadaan terkunci dan ia pun masuk ke dalam kamar Nyonya Arini. Gairahnya pun langsung naik ketika melihat Nyonya Arini yang tengah tertidur pulas dengan telanjang bulat. Ia menelan ludah melihat keseksian tubuh Nyonya Arini yang tidak tertutupi satu helai benang pun.

Ia melihat dada Nyonya Arini yang besar itu naik turun seiring dengan gerakan nafas Nyonya Arini. Ia mengeluarkan kontolnya dan mengocok kontolnya sambil melihat tubuh bugil Nyonya Arini. Lalu ia mendekat dan memberanikan diri meremas toket Nyonya Arini yang kenyal itu. Ia meremasnya dengan sangat kasar hingga membuat Nyonya Arini terbangun.

Dengan keadaan kamar yang gelap gulita, Nyonya Arini melihat bayangan seseorang yang sedang meremas toketnya. Ia pikir kalau itu adalah Nanang dan ia terlihat bahagia sekali. Nyonya Arini menghidupkan lampu dan ia kaget melihat sosok bayangan itu yang ternyata adalah Pak Eman.

“EMAAANNN ! Apa yang kamu…….”

Belum lagi Nyonya Arini menyelesaikan omongannya, mulut Nyonya Arini langsung disumpal oleh kontol Pak Eman. Nyonya Arini meronta dan berusaha mengeluarkan kontol Pak Eman dari dalam mulutnya. Ia mendorong dan memukul tubuh Pak Eman, namun Pak Eman terus bertahan sambil menggenjot kontolnya di dalam mulut Nyonya Arini. Lalu Nyonya Arini menggigit kontol Pak Eman dengan keras hingga Pak Eman langsung mengeluarkan kontolnya. Ia melihat kontolnya sedikit berdarah karena gigitan itu. Ia pun marah besar dan mencekik leher Nyonya Arini serta menamparnya.

“Kalau Nyonya tidak mau melayaniku, aku akan laporkan kepada warga tentang hubungan spesial Nyonya dengan Nanang” ancam Nyonya Arini.

“Uhuukkk..Uhukkkk…Hu…Hubungan apa yang kamu maksud ???” tanya Nyonya Arini sambil berusaha menyingkirkan tangan Pak Eman dari lehernya.

“Aku melihat Nyonya sedang ngentot dengan Nanang di sungai beberapa hari yang lalu” jawab Pak Eman dan Nyonya Arini pun terkejut.

“Dasarr bajingannn ! Aku tidak takuut padamuuuu !” kata Nyonya Arini yang tidak takut dengan ancaman Pak Eman.

Lalu Nyonya Arini berusaha untuk membuka lacinya. Ia berhasil meraih sebuah pisau belati peninggalan suaminya dan melayangkan pisau itu hingga menggores pipi Pak Eman. Pak Eman semakin emosi dan ia juga semakin beringat. Ia berusaha untuk mengambil pisau itu dari tangan Nyonya Arini dan secara tidak sengaja, Pak Eman justru menancapkan pisau itu tepat di leher Nyonya Arini. Pak Eman langsung kaget dan ia mulai ketakutan. Nyonya Arini yang masih tersadar berusaha untuk mencabut pisau itu dari lehernya yang mulai berceceran banyak darah. Ternyata rasa ketakutan Pak Eman masih lebih kecil dibanding gairah Pak Eman.

Ia pun memanfaatkan situasi itu dengan langsung menusuk memek Nyonya Arini dengan kontolnya. Ia menyetubuhi Nyonya Arini sambil melihat Nyonya Arini yang sudah hampir mati karena kehilangan banyak darah. Lalu beberapa saat kemudian Nyonya Arini harus merenggang nyawa. Dengan seketika tubuh Nyonya Arini menjadi kaku, namun Pak Eman masih terus menggenjot kontolnya dengan penuh nafsu sambil memaki Nyonya Arini yang telah tiada. Sementara itu secara mengejutkan Nanang sudah berada di depan pintu gerbang Nyonya Arini. Entah kenapa malam itu ia tidak bisa tidur dan terus teringat akan Nyonya Arini.

Ia memiliki firasat buruk tentang Nyonya Arini yang telah ia tinggalkan selama beberapa hari. Lalu ia pun meminta izin kepada penjaga untuk diterima masuk ke dalam Nyonya Arini. Lalu penjaga mengizinkan Nanang untuk masuk dan Nanang segera menuju ke lantai dua dimana kamar Nyonya Arini berada. Ia membuka pintu kamar Nyonya Arini dengan pelan karena ia sengaja ingin mengejutkan Nyonya Arini. Setelah pintu sedikit terbuka, Nanang mendengar suara ribut dari arah ranjang Nyonya Arini.

Ia pun masuk ke dalam kamar dan ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia begitu kaget dan juga syok melihat tubuh Nyonya Arini yang bersimbah darah dengan pisau yang masih menancap di lehernya.

Lalu matanya tertuju pada pria yang masih sibuk menggenjot memek Nyonya Arini. Lalu Nanang mengambil sebuah tongkat panjang dan memukulkan tongkat itu ke punggung Pak Eman. Lalu Pak Eman tersungkur sambil memegangi punggungnya. Nanang terkejut kalau pria tersebut adalah Pak Eman dan Pak Eman juga kaget bukan main setelah dipergoki oleh Nanang.

Dengan tergesa – gesa Pak Eman keluar dari kamar Nyonya Arini melalui balkon dan ia pun memberanikan diri untuk melompat ke bawah. Alhasil pendaratannya pun tidak sempurna yang mengakibatkan kakinya patah. Para penjaga yang melihat kejadian itu langsung mengepung Pak Eman. Nanang ikut turun ke bawah dan langsung menghajar Pak Eman hingga habis – habisan. Ia begitu emosi sampai sulit untuk mengontrol dirinya sebelum para penjaga berhasil memegang tubuh Nanang.

Para penjaga terkejut setelah mendengar Nyonya Arini telah tewas dibunuh oleh Pak Eman. Lalu para penjaga melaporkan Pak Eman kepada polisi. Nanang kembali ke kamar Nyonya Arini untuk melihat jasad seseorang yang ia sayangi. Nyonya Arini tengah dikerubungi oleh para pembantunya yang syok melihat tubuh kaku Nyonya Arini yang mengenaskan. Nanang memeluk Nyonya Arini dan menangis sejadi – jadinya. Ia merasa gagal karena tidak mampu melindungi Nyonya Arini.

Ia merasa menyesal setelah meninggalkan Nyonya Arini. Rasa penyesalan Nanang tidak akan mengembalikan Nyonya Arini yang telah meninggal dunia. Nanang menutup mata Nyonya Arini yang masih terbuka dan kemudian mencium kening Nyonya Arini untuk terakhir kali.

“Aku cinta padamu Arini. Maafkan aku karena gagal melindungimu” kata Nanang dengan mengucapkan kata – kata terakhir untuk Nyonya Arini.

Meninggalnya Nyonya Arini menjadi berita besar pada keesokan harinya. Warga terkejut mendengar kematian Nyonya Arini yang harus meregang nyawa di tangan Pak Eman selaku kepala desa. Dilain sisi, warga merasa senang karena sosok juragan desa yang sombong dan menakutkan telah pergi untuk selamanya. Hutang – hutang yang belum sempat mereka lunaskan secara otomatis telah hilang seiring dengan kepergian Nyonya Arini. Ada yang menganggap kematian Nyonya Arini sebagai azab dari Tuhan karena sifat sombongnya itu. Ada pula yang menganggap peristiwa ini sebagai langkah bagi desa itu untuk menjalani kehidupan yang baru. Namun dengan rasa solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi, warga desa tetap berbondong – bondong mengantar kepergian Nyonya Arini ke peristirahatannya yang terakhir.

Mungkin hanya Nanang satu – satunya orang yang menangisi kepergian Nyonya Arini. Air mata terus mengalir membasahi wajahnya seiring tubuh Nyonya Arini yang telah dibaringkan di liang lahat. Warga menganggap aneh kesedihan Nanang yang terlalu berlebihan. Warga pun merasa kalau Nanang akan mewarisi semua sifat Nyonya Arini karena kedekatan mereka selama ini. Padahal alasan Nanang bersedih karena baginya Nyonya Arini adalah sosok wanita yang baik dan telah memberikan segalanya untuknya. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Nyonya Arini meski usia mereka yang terpaut sangat jauh. Padahal ia memiliki rencana – rencana hebat bersama Nyonya Arini suatu hari nanti. Namun semua itu hanya tinggal kenangan dan yang telah terjadi tidak akan bisa kembali.

Sementara Pak Eman telah dijebloskan ke dalam penjara untuk membayar pembunuhan itu meski ia tidak sengaja untuk melakukannya. Bu Nining sendiri memilih untuk bercerai dan ia sangat menyesal mengenal Pak Eman. Ia sangat menyesal karena dengan mudahnya memberikan tubuhnya untuk Pak Eman.

Cerita Seks Terbaru 2017 | Kini Nanang dan Bu Nining telah kembali ke kehidupan mereka. Nanang memilih untuk menutup diri karena tidak bisa menerima kepergian Nyonya Arini. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah setelah mengurus sawahnya dan menjadi seorang pria yang pendiam. Ibunya merasa khawatir dan juga aneh dengan kesedihan Nanang yang berlebihan ini. Disaat warga senang dengan kepergian Nyonya Arini, Nanang justru menangis dan berharap Nyonya Arini bisa hidup kembali.

“Kenapa kamu terus bersedih seperti ini ???” tanya Bu Nining kepada anaknya yang terus dirundung kesedihan.

“Aku rindu Nyonya Arini” jawab Nanang dengan tangis yang terisak. Setiap kali menyebut nama Nyonya Arini, air mata Nanang terus mengalir.

“Semua orang bahagia karena Nyonya Arini telah tiada, tapi kenapa kamu malah sedih ???” tanya Ibu Nining yang semakin penasaran.

“Ibu tidak tahu kalau aku punya hubungan yang spesial dengan Nyonya Arini” jawab Nanang dengan jujurnya.

“Hubungan spesial bagaimana maksudnya ???” tanya Ibu Nining lagi.

Lalu dengan kejujuran hatinya, Nanang menceritakan semua kisah indahnya dengan Nyonya Arini. Bu Nining tidak terlalu kaget mendengar kisah persetubuhan anaknya dengan Nyonya Arini. Ia memilih untuk diam karena ia sendiri juga melakukan hal yang sama dengan Pak Eman dan pria lain. Nanang mengatakan kalau ia sudah jatuh cinta kepada Nyonya Arini. Ibunya memakluminya dan menganggap kalau Nanang telah tumbuh menjadi pria dewasa.

Bu Nining hanya berpesan agar Nanang mau melupakan Nyonya Arini dan memulai hidupnya seperti dulu lagi.

“Aku juga ingin tanya sesuatu pada Ibu” kata Nanang dengan serius.

“Mau tanya apa ???” kata Bu Nining yang merasa was – was dengan wajah serius yang ditunjukkan oleh Nanang.

“Ada hubungan apa antara Ibu dan Trisno ???” tanya Nanang dan bagaikan petir yang menyambar, Ibu Trisno begitu kaget mendengar pertanyaannya itu.

Ia kaget karena ternyata Nanang telah mengetahui hubungannya dengan sahabat anaknya itu. Tapi rasa kaget itu tidak berlangsung lama. Bu Nining memilih untuk berkata jujur karena anaknya juga telah mengatakan hal yang jujur kepadanya. Ibunya mengakui ada kesepakatan antara Trisno dan juga dengannya. Kesepakatan itu terjadi karena Trisno telah mengetahui affair antara dirinya dan juga Pak Eman jauh Nanang mengetahuinya. Trisno pun memanfaatkan itu untuk mencari uang dengan menjadikannya sebagai pelacur. Bu Nining tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti permintaan Trisno.

Jika tidak, Trisno akan melaporkannya kepada Nanang. Mendengar pengakuan Ibunya itu, Nanang hanya tersenyum mendengarnya. Ternyata apa yang ia duga selama ini benar adanya. Ia sudah menduga kalau Trisno pasti sedang mengancam Ibunya dengan sesuatu hal. Nanang pun kembali jujur kalau ia sudah tahu affair antara Ibunya dan juga Pak Eman. Bu Nining rasanya mau pingsan setelah mendengar pengakuan anaknya itu.

Ternyata rahasia yang selama ini ia simpan telah diketahui oleh anaknya. Lalu Nanang kembali jujur kalau ia telah balas dendam dengan menyetubuhi Ibu Trisno dan juga kakaknya. Bu Nining nyaris marah besar karena kelakuan anaknya itu. Tapi ia berusaha untuk meredam amarahnya karena semua ini adalah kesalahannya. Bu Nining merasa gagal sebagai seorang Ibu yang seharusnya
membesarkan anaknya dengan kasih sayang. Keduanya pun berpelukan dan menangis.

“Ibu harus janji padaku untuk tidak melakukannya lagi” pinta Nanang.

“Iya, Nak. Kamu juga harus janji pada Ibu untuk tidak balas dendam lagi” pinta Bu Nining.

Lalu Ibu dan anak itu saling bertatap – tatapan untuk beberapa saat. Secara spontan Nanang mengecup bibir Ibunya dengan mesra. Bu Nining sedikit kaget tapi tidak berusaha untuk marah. Melihat tidak ada reaksi dari Ibunya, Nanang kembali mengecup bibir Ibunya dan kali ini ia bertahan sedikit lama. Bu Nining mulai terbuai karena ciuman hangat anaknya itu. Mulutnya sedikit terbuka dan dengan segera lidah Nanang menyusup masuk ke dalam rongga mulut Ibunya.

Nanang memainkan lidahnya di dalam mulut Ibunya. Lalu lidah Bu Nining ikut bergerak dan kini lidah mereka saling menjilat. Nanang mendorong kepala Ibunya agar bibir mereka semakin rapat. Nanang membelai punggung Ibunya dan membuka kaitan BH Ibunya dari luar baju Ibunya. Bu Nining masih terbuai dengan ciuman Nanang hingga tidak sadar kalau pengait BH nya telah terbuka. Lalu Nanang semakin memberanikan diri dengan menyusupkan tangannya ke dalam celana kain Ibunya. Ia berhasil membelai memek Ibunya dan kini Bu Nining mulai tersadar dari lamunannya. Ia mengeluarkan tangan Nanang dari celananya.

“Kita tidak boleh melakukan ini” kata Ibunya sambil beranjak keluar dari kamar Nanang. Tapi dengan segera Nanang menahan tangan Ibunya dan Ibunya kembali duduk di kasur Nanang.

“Aku sudah lama ingin melakukan ini. Bolehkah aku ngentot dengan Ibu ???” tanya Nanang dengan penuh pengharapan.

“Tapi, kita memiliki hubungan sedarah. Kita tidak boleh melakukan ini” jawab Bu Nining.

“Aku mohon, Bu. Aku sudah lama ingin merasakan tubuh Ibu. Aku iri dengan Pak Eman dan Trisno yang bisa menyicipi tubuh Ibu” kata Nanang sambil memohon.

Seberapa kuatnya Nanang memohon, Ibu Nining tetap tidak mau melakukannya karena ia takut akan terkena kutukan bila bersetubuh dengan anaknya sendiri. Nanang pun tidak kehilangan akal. Ia berdiri dan membuka celananya. Kemudian ia memamerkan kontolnya yang besar dan panjang itu kepada Ibunya.

Sontak Bu Nining merasa kaget dengan ukuran kontol Anaknya yang tidak lazim itu. Ia kira selama ini hanya kontol Pak Eman yang memiliki ukuran terbaik, ternyata justru kontol anaknya yang lebih mengerikan. Nanang meraih tangan Ibunya dan meletakkannya di kontolnya. Ibu Nining menggenggam kontol Nanang yang terasa hangat di telapak tangannya. Ia begitu takjub melihat kontol anaknya itu yang berwarna hitam gelap. diameter ujung kontolnya juga sangat lebar yang membuatnya berandai – andai ketika kontol itu masuk ke dalam memeknya.

Nanang membiarkan tangan Ibunya mengelus kontolnya. Ia harap setelah ini Ibunya mau bersetubuh dengannya sesuai dengan apa yang ia inginkan sejak dulu. Bu Nining mulai merasakan gairahnya setelah menggenggam kontol Nanang. Ia tidak tahan untuk segera mencicipi kontol Nanang di mulut dan juga memeknya. Nanang mulai menyadari kalau Ibunya sudah mulai bergairah untuk bersetubuh dengannya.

Nanang membuka baju Ibunya dan kemudian melepaskan BH nya. Toket Ibunya yang menggantung indah itu seperti sudah tidak sabar untuk dijamah oleh mulut Nanang. Dengan rakusnya, Nanang menghisap kedua pentil Ibunya yang panjang itu. Bu Nining begitu menikmatinya dengan tangannya yang tak mau lepas dari kontol Nanang. Nanang senang sekali karena akhirnya ia bisa merasakan kenikmatan toket Ibunya meski tak lagi padat.

Kemudian Nanang meminta Ibunya untuk berdiri dan melepas celana Ibunya. Nanang tersadar kalau Ibunya mengenakan celana dalam G – String yang pernah diberikan oleh Pak Eman yang merupakan milik Nyonya Arini. Kembali Nanang teringat akan Nyonya Arini yang sangat suka mengenakan celana dalam model tersebut.

Kemudian Nanang menenggelamkan wajahnya di selangkangan Ibunya. Ia menghirup aroma selangkangan Ibunya yang sangat khas itu. Kemudian Nanang membuka celana dalam itu dan membelai lembut jembut Ibunya yang lebat hingga menutupi belahan memeknya. Nanang meminta Ibunya untuk berbaring dan melebarkan kedua kakinya. Nanang menyibak bulu jembut itu untuk bisa menjilati memek Ibunya. Ia melihat lubang memek Ibunya yang merekah merah.

Lubangnya tampak sedikit lebar karena sudah ditusuk oleh banyak kontol. Nanang menjilati klitosi Ibunya yang menonjol itu. Bu Nining menggeliat seperti cacing karena gelinya. Ia meremas rambut Nanang dan menekan kepala Nanang agar Nanang semakin buas menjilati memeknya. Aliran cairan cinta Bu Nining semakin banyak dan membuat Nanang semakin bersemangat. Ia masukkan tiga jarinya sekaligus ke dalam lubang Ibunya. Ia tusuk dengan cepat sembari menjilati klitoris Ibunya.

“Aaahhhh…Naaanggggg….itilll Ibuuuu rasanyaaa enaaaakkk..Aaahhhhhhh…Ibuuu mauuuu keluuuarrr….Oooouuuhhhhhh” erang Bu Nining.

Sesaat kemudian Bu Nining mulai orgasme. Ia menekan kepala Nanang agar lidahnya terus menjilati klitorisnya. Nanang merasakan dinding memek Ibunya berkedut kencang dan terasa semakin hangat. Lalu ia keluarkan jarinya yang basah dan lengket itu. Kemudian ia memasukkan jarinya ke dalam mulut Ibunya.

Bu Nining menjilatinya dengan penuh penghayatan. Ia begitu menikmati cairan cintanya sendiri. Kemudian Nanang memberikan waktu untuk Ibunya beristirahat guna menikmati sisa – sisa orgasmenya. Sementara itu Nanang sibuk menjilati anus Ibunya yang terlihat sempit dan menantang. Bu Nining tersenyum dalam hati karena baru kali ini ada seseorang yang berani menjilati anusnya.

Nanang membasahi jarinya dan menusuk anus Ibunya dengan jari tengahnya. Bu Nining kembali merasakan nikmat yang tiada tara. Mungkin dikarenakan anusnya yang masih perawan sehingga masih terasa sempit dan nikmat.

“Sini kontolmu. Giliran Ibu yang pengen merasakan kontol gedek” kata Bu Nining.

Lalu Nanang berbaring di atas kasurnya. Bu Nining mengocok kontol Nanang sambil menatap wajah anaknya yang sangat menikmati kocokannya itu. Kerasnya kontol Nanang membuat Bu Nining betah untuk terus mengocoknya. Kemudian Bu Nining mulai menjilati batang kontol Nanang dan juga menghisap buah zakarnya. Nanang menggeliat dan mengerang ketika Ibunya menggelitik lubang kontolnya dengan lidahnya. Kontolnya tak berhenti berkedut dan pelumasnya terus mengalir.

Kemudian Bu Nining memasukkan kontol Nanang ke dalam mulutnya. Bu Nining terlihat kesulitan karena besarnya kontol anaknya itu. Ia pun menghisap kontol Nanang dengan perlahan sambil terus mengocok kontol anaknya. Tangan Nanang juga tak berhenti meremas toket Ibunya itu. Lalu Bu Nining melakukan deep throat hingga batang kontol Nanang mentok di ujung kerongkongannya. Ia bertahan hingga 15 detik sebelum akhirnya tersedak – sedak.

Tapi ia tidak mau menyerah dan terus melakukan deep throat hingga kerongkongannya mulai terasa kebas. Bu Nining terlihat bahagia sekali dan ia seperti seorang wanita binal yang maniak kontol. Ia tidak peduli akan pandangan anaknya yang menganggapnya seperti seorang pelacur yang ketagihan kontol. Ia terus menjilat dan mencium batang kontol Nanang. Sementara Nanang hanya tersenyum melihat tingkah Ibunya itu. Ia biarkan Ibunya untuk menikmati kontolnya selama yang ia suka.

“Ayo kita ngentot sayang” ajak Bu Nining yang telah bersiap mengambil posisi nungging di samping Nanang.

“Aku gak mau. Tadi Ibu melarangku untuk bersetubuh dengan Ibu” tolak Nanang. Sebenarnya ia hanya berpura – pura untuk memancing nafsu Ibunya.

“Tadi Ibu hanya becanda. Ayo sini masukin kontol kamu ke memek Ibu” kata Bu Nining sambil memperlihatkan lubang memeknya.

“Gak mau ah. Nanti kita bisa terkena kutukan” jawab Nanang seperti yang dikatakan Ibunya diawal tadi.

“Jangan gitu sayang. Itu sama saja kamu akan menyiksa Ibu. Ayo sini kontolin memek Ibu. Buat Ibu seperti lonte yang haus kontol” rengek Bu Nining.

Nanang tertawa terbahak – bahak mendengar ucapan Ibunya itu. Nanang beruntung sekali bisa memiliki Ibu yang binal seperti Ibunya. Lalu Nanang segera mengambil posisi enak untuk bisa menikmati memek Ibunya itu.

Nanang tusukan kontolnya dengan sangat mudah hanya dalam sekali tekan. Bukannya yang Nanang yang menggerakkan pinggulnya, justru Ibunya yang berinisiatif lebih dulu menggenjot kontol Nanang dengan gerakan maju mundur. Nanang hanya diam sambil sesekali memukul pantat Ibunya yang besar itu. Sesekali Bu Nining menggoyangkan pantatnya dengan cara diputar sehingga kontol Nanang semakin terasa nikmat di dalamnya. Kali ini Nanang ikut menggerakkan pinggulnya.

Keduanya saling beradu tusukan yang membuat keduanya semakin tenggelam dalam lembah kenikmatan. Nanang menarik rambut Ibunya sehingga sambil terus menusuk kontolnya. Bu Nining tidak bisa membohongi dirinya kalau ia sangat menikmatinya. Setiap tusukan kontol Nanang semakin membuatnya bergairah. Sesaat kemudian Bu Nining telah orgasme untuk kedua kalinya. Nanang merasakan kontolnya semakin dijepit dan hangat.

“Ibu keluar lagi. Memek Ibu gak tahan disodok kontol besar” kata Bu Nining.

“Yaudah Ibu istirahat aja dulu” kata Nanang yang ingin memberikan Ibunya waktu untuk beristirahat.

“Gak usah. Kamu entot aja memek Ibu lagi. Entot lontemu ini dengan sodokan yang nikmat” suruh Bu Nining yang tidak ingin Nanang berhenti menyodok kontolnya.

Nanang pun mendengar apa yang disuruh Ibunya. Nanang kembali menggenjot memek Ibunya dan kali ini dengan tempo yang sedang. Ia ingin Ibunya semakin bergairah dan memohon untuk terus digenjot. Nanang memang sangat suka memancing gairah Ibunya agar permainan mereka semakin hot.

“Ibu mau di atas. Gantian Ibu yang mau memekin kamu” pinta Bu Nining sambil menggeser tubuhnya.

Nanang kembali berbaring dan Ibunya langsung memasukkan kontol Nanang ke dalam memeknya. Kali ini Ibunya semakin liar dengan gerakan yang tidak bisa dikendalikan. Nanang menyuruh Ibunya untuk bergerak perlahan, tapi Bu Nining tidak mau mendengarkannya. Pinggulnya seakan tidak mau berhenti dan terus menggenjot kontol Nanang. Suara denyitan kasur Nanang mulai terdengar. Suara itu semaki terdengar nyaring ketika Ibu Nanang dengan kuatnya menghentakkan pinggulnya.

Kasur Nanang yang sudah lapuk membuat suara denyitan itu terdengar semakin nyaring dan kuat. Dan BRAAAKKKKKKKKKKK, kasur Nanang pun akhirnya roboh karena tidak mampu menahan beban akibat genjotan Ibunya yang tidak terkendali. Nanang sempat merasakan serangan jantung ringan, sementara Ibunya seakan tidak merasakannya dan terus menggenjot Nanang meski kasur Nanang telah roboh. Bu Nining menarik kepala Nanang untuk menghisap toketnya. Dengan sigap Nanang melahap kedua gunung kembari milik Ibunya itu.

Ia bernafsu sekali menghisapnya hingga kedua puting Ibunya semakin panjang dan membesar.

“Kamu suka dimemekin atau dikontolin ???” tanya Bu Nining di sela – sela genjotannya.

“Akuuu…Akuuuu suka dua – duanya Bu….Aaaahhhh…Pelaaann Buuuu” pinta Nanang yang mulai merasakan ngilu di kontolnya.

“Aaaahhhhh…Kalauuu Ibuuu sukaaa dimemekiinnn…Ibuuuu jadii bebas ngentooott kontol kamuuuu…Aaaahhhh….Uuuuuhhh” erang Bu Nining yang semakin tidak terkendali.

Nanang suka sekali melihat Ibunya yang binal itu. Ia semakin gemas dan semakin bergairah dengan kebinalan Ibunya itu. Karena terlalu bersemangat, tenaga Bu Nining mulai kendur dan ia pun sudah tak sanggup lagi menggenjot kontol anaknya.

“Aaahhhh…Ibu capeekkkk…Gantian kamuu yang kontolinn Ibu” pinta Bu Nining dengan nafas yang naik turun.

Nanang menggenjot memek Ibunya dengan menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Ia melakukannya dengan pelan agar ia bisa menikmati gesekan antara batang kontolnya dan juga dinding memek Ibunya. Tapi Bu Nining tampak tidak puas dan meminta anaknya untuk melakukannya dengan lebih cepat. Ia pun merasakan orgasmenya akan segera tiba.

“Nangggg…Entoott yang cepaatttt…loyo bangeett sihhhh” rengek Ibunya sambil memukul dada Nanang.

“Aku mau Ibu memohon” pancing Nanang dan ia pun menghentikan genjotannya untuk mendengar suara permohonan dari Ibunya.

“Nanang sayangggg…Entoott memek Nininggg yaaa…Entoottt yang kuuattt…Soalnyaaa memekk Nininggg udah mauu muncratt nihhh” mohon Bu Nining.

Setelah mendengar permohonan Ibunya, barulah Nanang kembali menggenjot memek Ibunya dengan tempo yang luar biasa cepatnya. Nanang mengerahkan seluruh tenaganya dan berharap ia segera mendapatkan orgasmenya.

Nanang merasakan orgasme Ibunya yang tidak terkendali. Bu Nining mengerang dan mendesah dengan hebatnya. Ia tidak peduli apakah desahannya itu terdengar sampai ke luar rumahnya. Nanang pun juga sudah mulai merasakan orgasmenya sudah dekat. Nanang semakin cepat hingga memek Ibunya terasa perih.

“Hentikaaannnn…Hentikaaannnnnn !” Jerit Bu Nining yang tidak kuat menahan sakit di memeknya.

Nanang tidak berhenti dan terus menggenjotnya. Air liur Ibunya bertumpahan di dadanya seperti anjing yang terkena rabies. Bu Nining mulai menangis karena tak sanggup menahan perih. Dan akhirnya orgasme Nanang pun tiba. Dengan sekuat tenaga ia menancapkan kontolnya semakin dalam hingga menyentuh rahim Ibunya.

Ia keluarkan seluruh cairan panasnya di dalam memek Ibunya. Bu Nining merasakan betapa hangatnya sperma anaknya itu. Ia merasakan aliran sperma Nanang masuk ke dalam rahimnya. Bu Nining memeluk Nanang dengan erat dan ia takjub karena Nanang tidak berhenti mengeluarkan spermanya hingga belasan kali semprotan.

“Kenapa pejuhmu begitu banyak ???” tanya Bu Nining.

“Aku tidak tahu, Bu. Aku selalu begitu setiap kali keluar” jawab Nanang yang tidak tahu penyebabnya.

Lalu keduanya pun terkulai lemas tak berdaya. Kontol Nanang masih menancap di dalam memek Ibunya sambil merasakan pijatan lembut dinding memeknya. Tanpa sadar keduanya pun mulai tertidur karena kelelahan. Keduanya tidur sambil berpelukan dengan kontol Nanang yang tetap menancap di memek Ibunya.

About pejuku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*